Kompetisi bola basket putri nasional akan kembali digelar dengan memakai nama Srikandi Cup. Delapan tim basket putri dipastikan ikut bersaing memperebutkan Piala Srikandi.

Kepastian digelarnya Srikandi Cup tercapai setelah para perwakilan klub melakukan pertemuan Sabtu (2/8/2017) siang. Srikandi Cup rencananya dimulai November nanti dan berakhir April 2018. 

 

 

Kedelapan klub yang akan berpartisipasi di Srikandi Cup adalah Juara bertahan Surabaya Fever, Sahabat Semarang, Merpati Bali, Merah Putih Samator Jakarta, Tanago Friesan Jakarta, Tenaga Baru Pontianak, Flying Wheel Makassar, dan GMC Cirebon.

"Liga Putri akan memperebutkan Piala Srikandi dan akan diikuti oleh 8 tim. Kami akan memulai di akhir bulan November, rencananya Seri I dilaksanakan di Kota Makassar. Hingga saat ini persiapannya memasuki 70%. Dengan semangat kebersamaan kita semua akan saling membantu dalam hal pembiayaan. Kami akan concern ke masalahah data statistik dan juga pemberitaan liga putri yang rutin. Harapan kita bersama, tentunya Srikandi Cup bisa mendapatkan sponsor dan juga mendapatkan dukungan dari media. Hal lainnya, digelarnya liga putri ini diharapkan bisa membantu menjaring para pemain yang nantinya akan berlaga di Asian Games tahun depan," ujar Deddy Setiawan, Koordinator Liga Putri Srikandi Cup.

Srikandi Cup akan berlangsung tiga seri. Seri I akan dilangsungkan di Makassar pada akhir November 2017, Seri ke II di Kota Surabaya Januari 2018, Seri ke III Jakarta atau Tangsel Maret 2018 dan Babak Playoff dan Grandfinal berlangsung di Cirebon pada bulan April 2018. Jadwal Srikandi Cup disesuaikan dengan persiapan timnas putri Indonesia di ajang Asian Games 2018.

“Musim ini kami sepakat mengikuti agenda TC timnas Asian Games. Oleh karena itu kompetisi harus selesai pada bulan April. Musim depan kita akan mencoba menambah seri dan kota penyelengaraannya," kata Deddy, yang juga pemilik klub Merpati Bali.

Ketua umum PP Perbasi Danny Kosasih mendukung penuh penyelenggaraan Srikandi Cup.

“Perbasi akan mendukung dari sisi perwasitan dan memberikan pelatihan kepada para perangkat pertandingan, misalnya 1 hari sebelum seri dimulai akan diadakan workshop dan juga mensosialisasikan peraturan FIBA terupdate supaya penyelenggaraan liga putri semakin maju. Masukan saya, delapan tim peserta wajib membawa 1 referee berlisensi A dan juga penyelenggara di empat kota tersebut harus memberdayakan SDM wasit lokal. Kami hanya akan membantu menyediakan 2 wasit Nasional setiap serinya. Dengan demikian diharapkan adanya transfer ilmu dan kualitas pertandingan akan terjaga mutunya,” tutur Danny Kosasih.