(srikandicup.com) - Tim Nasional Indonesia mencatatkan sejarah baru setelah mampu mengalahkan India dengan skor 66-69 hari Kamis (23/8) malam di Hall Basket Gelora Bung Karno, Jakarta. Hasil tersebut memastikan satu tiket di babak perdelapan final Asian Games XVIII bagi  anak-anak asuh Arif Gunarto. Kemenangan perdana Indonesia di ajang Asian Games ini tidak di dapat dengan mudah. Tergabung dalam Grup X yang dihuni oleh mayoritas tim-tim kuat, Indonesia harus puas menelan 3 kekalahan secara beruntun pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Korea Bersatu (Unified Korea), Kazakhstan, dan Taiwan mampu mengungguli Indonesia secara telak dari berbagai aspek pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Sebelumnya Indonesia menjadi bulan-bulanan lawan pada pertandingan-pertandingan terdahulu. Hanya ketika melawan Kazakhstan saja Indonesia mampu memberi perlawanan berarti di awal dan akhir pertandingan, selebihnya pertandingan-pertandingan Indonesia terasa berat sebelah karena perbedaan kualitas permainan yang cukup jauh. Indonesia seperti bermain tanpa rencana, dan bentuk yang formal. Produksi poin Indonesia juga terlalu bertumpu pada Nathasa Debby seorang, Debby pada pertandingan-pertandingan sebelumnya berkontribusi kepada 50 persen dari jumlah angka yang dicetak oleh Indonesia.

India dan Indonesia secara bergantian mencetak angka hingga sempat terjadi 15 kali perubahan kepemimpinan dalam pertandingan, dan 7 kali skor imbang.

Partai melawan India seolah menjadi kesempatan baru bagi Henny Sutjiono, dkk untuk menampilkan permainan yang berbeda kepada publik basket Indonesia. Benar saja, Indonesia mengawali pertandingan dengan semangat yang berbeda. Tertinggal 5-0 di awal pertandingan, dengan cepat Indonesia membalikkan keadaan menjadi 5-6 melalui poin dari Henny Sutjiono, dan Christine Tjundawan. Indonesia yang bermain dengan agresif dan mengandalkan poin-poin melalui fastbreak mampu menjaga keunggulan dan mengakhiri kuarter yang pertama dengan skor 14-17. Di awal kuarter kedua, India bangkit dan mengungguli Indonesia dengan mencetak 13 angka secara beruntun (26-17). Situasi ini semakin genting karena selama lebih dari 4 menit di awal kuarter kedua, Indonesia tidak mampu memproduksi poin sama sekali. Kebuntuan ini dipecahkan oleh Nathasa Debby melalui tembakan-tembakan bebas dan penetrasi lapangan dalam. Henny dan Gabriel Sophia juga berkontribusi memberi sumbangan poin untuk mengejar perolehan angka India, di sisi pertahanan, Indonesia tampil disiplin dan mampu memaksa India melakukan kesalahan-kesalahan yang berujung turnover. Kuarter kedua ditutup dengan skor 29-31 untuk keunggulan Indonesia.

Pada kuarter ketiga, giliran India yang mengalami penurunan performa. Anak-anak asuh Shiba Maggon secara perlahan kebobolan dari serangan-serangan Indonesia, hingga margin angka mencapai 13 poin pada 5 menit awal kuarter ketiga. Namun setelahnya, laju produksi poin India meningkat pesat. India mampu meningkatkan perolehan angka mereka dan mengakhiri kuarter ketiga dengan selisih 2 poin saja dari Indonesia (50-52). Selanjutnya pada kuarter keempat, kedua tim sama-sama tampil ngotot dan berusaha untuk memenangi pertandingan. India dan Indonesia secara bergantian mencetak angka hingga sempat terjadi 15 kali perubahan kepemimpinan dalam pertandingan, dan 7 kali skor imbang. Sebuah gambaran mengenai ketatnya pertandingan ini. Berbeda dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya, kali ini produksi poin Indonesia tidak terpusat pada Nathasa Debby seorang. Gabriel Sophia, Christine Tjundawan, dan Adelaide Wongsohardjo secara mampu mencetak double-digit poin. Henny Sutjiono, Priscilla Karen, dan Dyah Lestari juga membuka rekening poin mereka dalam pertandingan ini.

tim

 

Suasana semakin menegangkan menjelang akhir pertandinan. Di 50 detik terakhir, kedua tim sama-sama mencetak 66 poin. India dan Indonesia sama-sama menyuguhkan permainan yang ketat dan menghibur bagi penonton sepanjang malam itu. Aura ketegangan semakin merasuk mengingat waktu yang menipis, dan peluang lolos ke babak delapan besar yang dipertaruhkan dalam pertandingan ini. 36 detik tersisa, Indonesia melancarkan serangan pamungkasnya. Gabriel Sophia mengeksekusi tembakan dua angka yang diharapkan mampu memastikan kemenangan malam itu, namun tembakan Sophia mampu di blok oleh Geetha Anjana, seketika India menyerang balik dan berusaha untuk mencetak poin, namun eksekusi tembakan Raspreet Sidhu meleset dan berhasil diamankan oleh Clarita Antonio. Dengan 20 detik tersisa, Clarita mengirimkan operan matang ke Nathasa Debby yang melakukan break pertahanan India yang kosong. Skaria Jeena, satu-satunya pemain India yang ada di pertahanan India akhirnya terpaksa untuk melakukan pelanggaran untuk menghentikan usaha Debby mencetak angka. Mampu mengkonversi satu dari dua tembakan bebas menjadi poin, Nathasa Debby membawa Indonesia unggul 66-67 atas India saat pertandingan menyisakan 15 detik. India memiliki peluang besar untuk membalikkan keadaan. Namun peluang ini menguap dengan cepat ketika Nixon Stephy melakukan turnover dan membuat India kehilangan penguasaan bola. Selanjutnya Gabriel Sophia memperlebar jarak melalui dua tembakan bebas di detik-detik akhir pertandingan. Skor akhir 66-69 untuk keunggulan Indonesia.

Lolosnya Indonesia ke perdelapan final Asian Games menjadi sejarah baru bagi basket putri Indonesia, ini merupakan kali pertama basket Indonesia mencapai pencapaian ini.

Pemain-pemain Indonesia nampak larut dalam haru dan bahagia setelah pertandingan berakhir. Sukacita yang muncul atas keberhasilan meraih kemenangan perdana di Asian Games melalui pertandingan menegangkan dan ketat, sekaligus mengunci tiket terakhir ke babak perdelapan final. Indonesia patut bangga, selain karena performa tim yang luar biasa, lolosnya Indonesia ke perdelapan final Asian Games menjadi sejarah baru bagi basket putri Indonesia, ini merupakan kali pertama basket Indonesia mencapai pencapaian ini. Selain itu posisi delapan besar juga memberi peluang bagi Indonesia untuk lolos secara otomatis ke Asian Games Hanzhou 2022. Selanjutnya Indonesia akan berhadapan dengan Tiongkok, salah satu kandidat kuat peraih medali emas pada cabang basket. Memenangi laga melawan Tiongkok boleh jadi merupakan target yang terlalu jauh utuk digapai untuk saat ini, walau demikian kesempatan ini merupakan kesempatan langka yang amat baik bagi tim nasional Indonesia, dimana mereka memiliki kesempatan menjajal salah satu kekuatan terbaik basket Asia. Indonesia perlu banyak berbenah supaya mampu memberikan perlawanan yang lebih baik dibanding 3 pertandingan awal di babak penyisihan. Publik basket Indonesia tentu mengharap perlawanan maksimal dari Henny Sutjiono, dkk kala bertanding menghadapi Tiongkok Minggu, 26 Agustus mendatang. Pelajaran-pelajaran berharga dari Jakarta-Palembang 2018 hari ini bisa jadi bekal yang berharga untuk bagi Indonesia 2-3 tahun mendatang. (TSA)    

 

Foto-foto oleh: Mei Linda